Upacara Tradisional Tanjungsari

Upacara Tradisional Tanjungsari ini dilakukan oleh masyarakat di Dukuh Dlimas, Desa Ceper Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten. Jarak Dukuh Dlimas sekitar 6 km dari kota Klaten. Upacara ini diadakan tiap-tiap bulan Syura, jatuh pada hari Jumat Wage. Upacara ini rutin diadakan setiap tahunnya. Upacara ini menarik sekitar 10.000 pengunjung baik dari warga Dlimas sendiri maupun dari masyarakat kota Klaten. Bahkan, warga Dlimas yang berada diluar Klaten selalu menyempatkan diri untuk melihat langsung upacara Tanjungsari ini.

Upacara Tradisional Tanjungsari
Upacara Tradisional Tanjungsari
Upacara Tradisional Tanjungsari

Asal usul upacara tradisional Tanjungsari

Alkisah pada waktu pecahnya kerajaan Majapahit ada 2 orang putri kerajaan yang bernama Roro Tanjungsari dan Roro Payung Gilap yang lolos dari kerjaan dan kesasar sampai di sebuah desa yang masih berupa hutan. Karena kesedian dua putri tersebut menangis terus menerus dan tidak makan dan minum lalu kedua putri tersebut hilang bersama raganya (muksa).

Dengan hilangnya kedua putri di tempat itu timbullah pohon Dlimo, sedangkan buahnya setelah masak seperti emas maka Desa tersebur diberi nama Dlimas.

Masyarakat di Desa Dlimas pada waktu itu hidup serba kekurangan dan dapat diibaratkan bisa makan sehari dan tidak bisa makan tiga hari. Pada uatu hari ada salah satu penduduk yang mendapat ilham agar kehidupannya menjadi lebih baik, penduduk desa Dlimas harus merawat pohon Dlimo tersebut.

Alkisah setelah pohon tersebut dirawat dengan baik ternyata kehidupan masyarakat di Desa Dlimas menjadi baik, dan setelah pohon Dlimo itu mat, ditempat tersebut ditanami pohon Tanjung dan didekat pohon Tanjung dibuat dua arca yaitu arca Tanjungsari dan Payung Gilap. Dengan perubahan nasib/kehidupan masyarakat  Desa Dlimas dari serba kekurangan menjadi serba kelebihan timbullah kepercayaan, bahwa pada tiap-tiap bulan Syura yang jatuh pada hari Jumat Wage mereka mengadakan upacara selamatan dan tayuban dan dilakukan setelah shalat Jumat dengan cara penduduk membawa hidangan/ambeng dibawa di suatu tempat di bawah pohon Tanjung. Setelah upacara selamatan dilanjutkan dengan upacara tayuban/janggrungan. Upacara ini diberi nama Tanjungsari karena dilakukan di bawah pohon Tanjung.

Upacara ini juga dimeriahkan dengan pertunjukan ketropak, wayang kulit, wayang orang dan lain-lain. Selain itu juga terdpat pasar malam untuk beberapa hari.

Jika kalian tertarik untuk melihat upacara ini. Silahkan datang ke Dukuh Dlimas.

sumber : kompasiana.com

What's Your Reaction?

like
0
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0